Sejarah Pakaian Muslim: Perkembangan Pakaian Muslim di Masa Kolonial hingga Saat Ini (SEJARAH ISLAM - Bagian 5)
Artikel ini merupakan bagain 5 dari seri Sejarah Islam yang membahas perkembangan pakaian Muslim dari masa ke masa.
Pada masa tiga
kekaisaran besar islam, pakaian muslim menjadi simbol peradaban dan berkembang
dalam sistem sosial yang relatif stabil. Namun, menjelang akhir era kekaisaran
besar Islam, perubahan global mulai mempengaruhi struktur politik Utsmani,
Safawi, dan Mughal yang saat itu sedang melemah sehingga terbukanya jalan bagi
kekuatan Eropa ke wilayah-wilayah muslim. Bukan hanya melalui penaklukan
militer, tetapi kerapi kali masuk melalui perdagangan, misi diplomatik, dan
pengaruh budaya yang mengakar.
Pakaian menjadi salah satu yang mengalami perubahan. Pakaian
muslim yang sebelumnya menjadibagian dari tatanan sosial, pada akhirnya mulai
dipinggirkan dan dibatsi perannya dalam ruang publik. Bagi masyarakat muslim, ini
menjadi awal masa kolonial, bukan hanya dari segi politik tetapi kultural. Cara berpakaian berada di bawah tekanan
norma-norma baru yang dibawa kolonialisme. Di sinilah pakaian muslim mulai
menyesuaikan identitas yang akan membentuk karakter pakaian muslim hingga saat
ini.
A.
Pakaian Muslim di Masa
Kolonial
Pada masa kolonial, pakaian muslim mengalami transformasi dikarenakan
pengaruh kolonialisme. Penguasa kolonial saat itu memperkenalkan gaya busana
mereka seperti jas, celana panjang, topi, dan gaun. Saat itu, pakaian
tradisional islam diasosiasikan sebagai keterbelakangan sedangkan pakaian barat
dipromosikan sebagai standar kemajuan. Fungsi pakaian islam pun di masa
kolonial bukan hanya kewajiban syariat dalam menutup aurat, tetapi menjadi
simbol penting identitas budaya, ketahanan, dan bahkan perlawanan terhadap
pengaruh budaya barat. Terdapat pula asimilasi budaya antara gaya kolonial dan
budaya lokal yang sudah lebih dulu berasimilasi dengan nilai-nilai islam,
seperti contohnya penggunaan peci dengan jas atau kemeja.
Untuk ragam pakaian, laki-laki islam di masa kolonial menggunakan sarung
yang merupakan bawahan yang umum digunakan sehari-hari dan untuk acara
keagamaan, peci/kopiah yang kerap dipadukan dengan jas atau kemeja. Kemudian
ada gamis/jubah yang merupakan pengaruh dari Timur Tengah dan merupakan pakaian
longgar yang dikendal di masa Nabi dan kerap digunakan oleh sebagian muslim
taat. Di masa kolonial, pakaian perang suci seperti yang dipakai perang oleh
Diponegoro, sebuah pakaian serba putih yang terdiri dari celana, jubah, dan
penutup kepala putih menjadi simbol perjuangan dan religiusitas.
Untuk perempuan islam di masa kolonial, penggunaan kebaya dan sarung atau
kain batik sudah menjadi pakaian sehari-hari yang umum bagi perempuan pribumi. Penggunaan
penutup kepala untuk perempuan islam di masa kolonial dimulai dari wanita
bangsawan Makassar yang mengadopsi jilbab pada abad ke-17, kemudian menyebar ke
Jawa pada awal 1900-an. Namun, terdapat gaya dan tingkat kepatuhan bervariasi
tergantung pada daerah, status sosial, dan interpretasi keagamaan individu.
B.
Pakaian Muslim di
Masa Kebangkitan Islam Modern
Pada masa kebangkitan islam modern, pakaian
umat muslim mengalami transformasi signifikan dan kembali kepada nilai-nilai
kesopanan dan penegasan identitas muslim dengan pakaian longgar dan tidak
membentuk lekuk tubuh, menutup aurat, bahan ringan dan warna dan gaya
sederhana. Pada periode ini, mulai bermunculan desainer pakaian islam dan
dimulailah industri fesyen muslim dengan salah satu pelopor penting di
Indonesia adalah Anne Rufaidah dan Ida Royani.
Di periode ini, pakaian tradisional dan sederhana menjadi pilihan mode yang
lebih beragam dan ekspresif dan pemakaian jilbab lebih populer. Adapun gaya
pakaian populer di masa kebangkitan islam adalah gamis/abaya menjadi yang
sangat umum di negara muslim, tunik dan celana panjang atau rok panjang yang
telah dikombinasikan dan cocok untuk perempuan aktif agar lebih mudah bergerak,
penutup kepala atau jilbab/kerudung dengan tren yang mulai berkesperimen dengan
berbagai macam cara mengikat dan menata kerudung. Untuk warna, cukup populer
mengenakan warna cerah dan motif bunga-bunga atau kotak-kotak.
Untuk pakaian pria, pada umumnya mengenakan pakaian panjang dan longgar
seperti pakaian terusan selutut atau semata kaki yang dikenal dengan nama thawb
atau jubah yang populer di negara Arab dan sebagai simbol identitas muslim
secara universal. Kemudian ada kemeja tunik yang biasanya mencapai panjang
bawah lutut dan dipadukan dengan celana panjang atau sarung. Untuk penutup
kepala, ada peci (kufi) atau serban (turban). Pemilihan warna
biasanya netral atau putih karena dianggap mencerminkan kesederhanaan.
C.
Pakaian Muslim Era
Kontemporer
Memasuki abad ke-21, islam memulai tantangan baru berupa globalisasi,
kapitalisme budaya, dan arus informasi digital. Pakaian islam di era
kontemporer ini merupakan perpaduan antara tuntutan syariat, yaitu menutup
aurat, sopan, dan tidak ketat dengan gaya yang mengikuti tren. Di era
konteporer, pakaian muslim berkembang menjadi modest fashion global hingga
menciptakan industri halal fashion yang fokus memproduksi pakaian dan aksesoris
sesuai dengan prinsip islam dengan melibatkan inovasi desain dengan tetap
mengutamakan syariat dalam agama islam.
Karakteristik utama tetap berprinsip menutup aurat seluruh tubuh sesuai
yang telah diatur oleh syariat, sopan dan tidak ketat dengan pakaian longgar
yang tidak membentuk lekuk tubuh seperti gamis, tunik, dan kaftan. Kepatuhan
akan syariat dan estetika modern dipadukan sehingga menciptakan desain yang stylish
dan relevan dengan zaman. Desainer muslim juga tidak lupa mencampurkan tren
global termasuk gaya Y2K dengan warna cerah, celana longgar, layering.
Adapun jenis pakaian populer dan mendominasi pakaian muslimah kontemporer
meliputi kaftan yang sering dihiasi renda atau detail lainnya yang biasanya
populer untuk perayaan idul fitri, abaya yang sudah disulap menjadi lebih modis
dengan berbagai hiasan, gamis yang biasanya lebih umum untuk menjadi pilihan
utama untuk pakaian sehari-hari, kemudian ada tunik yang kerap dipadukan dengan
celana panjang atau rok untuk tampilan yang lebih santai dan sopan. Untuk
penutup kepala, biasanya perempuan muslim mengenakan varian gaya hijam yang
beragam, dari model sederhana hingga gaya yang lebih kompleks.
Untuk laki-laki muslim, pakaian yang dikenakan merupakan perpaduan tradisional dan modern yang tetap menekankan pada kesopanan, kenyamanan, dan gaya hidup. Pakaian muslim laki-laki paling umum di Indonesia adalah baju koko. Baju koko mempunya desain minimalis dengan kerah pendek, warna monokrom dengan aksen bordir yang halus dan minimalis dan bahkan ada yang tanpa bordir. Selain baju koko, ada juga kurta yang berasal dari India. Kurta biasanya memiliki panjang hingga lutut atau sedikit di atas lutut yang sering dipadukan dengan celana jeans, celana chino, atau celana panjang biasa untuk tampilan yang lebih stylish. Ada juga thobe/jubah/kandura yang umum di Arab namun di era kontemporer mendapat sentuhan modern dalam hal potongan, warna, dan detail saku.
Perkembangan pakaian muslim dari masa Jahiliyah hingga masa kini menunjukkan bahwa pakaian muslim bersifat statis dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, konteks politik, sosial, budaya namun tetap pada prinsip nilai-nilai dalam syariat islam. Pakaian muslim dari masa Jahiliyah hingga di era global yang serba visual menunjukkan perjalanan umat islam itu sendiri yang terus berupaya menggabungkan nilai-nilai islami dan perkembangan zaman. Hal ini menjadikan pakaian sebagai saksi perjalanan peradaban islam yang terus bergerak, berubah namun tidak meninggalkan nilai-nilai dasarnya.
Selesai juga rangkaian perekembangan busana muslim dari Jahiliyah hingga masa kini. Semoga suka dan menambah wawasan!
Support kami terus ya supaya kami bisa membuat konten-konten yang bermanfaat. Support kami dengan traktir kita cendol ya biar otaknya freshhhh😋: teer.id/bomijoha
Ada saran konten lain? Bisa hubungi kita di:
instagram: @t.leesuceratops / @bomijoha21
tiktok: @tleesuceratops
twitter (x): @bomijoha





Komentar
Posting Komentar