Sejarah Pakaian Muslim: Masa Khulafaur Rasyidin hingga Dinasti Abbasiyah (SEJARAH ISLAM - Bagian 2)
Artikel ini merupakan bagian 2 dari seri Sejarah Islam yang membahas perkembangan pakaian Muslim dari masa ke Masa
(Dinasti Umayyah sumber: alindrahaqeem.com)
Setelah
Nabi Muhammad SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah (632 M), umat
Islam sempat menghadapi krisis kepemimpinan karena Nabi tidak meninggalkan
wasiat tentang siapa penggantinya. Umat Islam dilanda perdebatan sengit
tentang siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad SAW sebagai khalifah umat
Islam. Setelah perdebatan panjang antara sahabat Anshar (penduduk Madinah dari
suku Aus dan Khazraj) dan Mujahirin (kaum muslimin yang hijrah dari Makkah ke
Madinah) yang berakhir pada pengakuan kesukuan, akhirnya terpilihlah Abu Bakar
As-Shiddiq sebagai khalifah pertama melalui pemilihan yang dilakukan secara
mushawarah mufakat.
Islam di bawah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin tidak aja
sebagai ajaran keagamaan, tetapi berkembang menjadi kekuatan sosial dan politik
yang akhirnya meluas ke berbagai wilayah. Di masa Khulafaur Rasyidin menandai
awal ekspansi islam yang meluas bahkan hingga ke luar Jazirah Arab. Perkembangan di bidang pendidikan, ilmu
pengetahuan dan sosial, budaya sangat pesat. Di masa Khulafaur Rasyidin menjadikan
periode ini menjadi fondasi peradaban Islam yang kuat yang menjadi landasan
bagi perkembangan islam selanjutnya.
Kemudian,
setelah periode kepemimpinan Khulafaur Rasyidin berakhir, menandai berakhirnya
era kekhalifahan demokratis (syura) dan dimulainya sistem monarki turun
temurun yang dimulai dengan kepemimpinan Muawiyah bin Abu yang mendirikan Dinasti
Umayyah yang terletak di Damaskus. Di masa Dinasti Umayyah, ekspansi Islam yang
semakin masif yang sampai mencakup Afrika Utara, Andalusia (Spanyol), dan
sebagian Asia Tengah, hingga Pakistan. Namun, setelah berkuasa dari tahun 661 M
hingga 750 M, Dinasti Umayyah harus berakhir akibat pemberontakan Bani Abbasiyah
di bawah pimpinan Abu Muslim al-Khurasani.
Setelah menaklukkan Dinasti Umayyah pada tahun 750 M, Dinasti Abbasiyah berkuasa dari tahun 750 M hingga 1258 M. Dinasti Abbasiyah berpusat di Baghdad dan masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah menjadikan periode tersebut menjadi masa keemasan peradaban islam dengan kemajuan pesat dalam sains, filsafat, budaya. Baik Dinasti Umayyah dan Abbasiyah keduanya merupakan peradaban besar yang mapan, melahirkan kehidupan istana, birokrasi, dan kota-kota kosmopolitan. Perubahan-perubahan ini juga turut tercermin dalam cara berpakaian masyarakat di periode kedua dinasti tersebut, yang mulai menunjukkan perbedaan antara penguasa, ulama, rakyat, serta pengaruh lintas budaya yang semakin kuat.
Pakaian Muslim Pada Masa Khulafaur Rasyidin (632-661 M)
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, terdapat empat khalifah pertama penerus Nabi Muhammad SAW yang adil dan bijaksana yang disebut Khulafur Rasyidin. Empat khalifah tersebut, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Pakaian di zaman Khulafaur Rasyidin tidak begitu jauh dari masa Muhammad SAW, sangat sederhana, praktis dan fungsional, mencerminkan kesalehan dan kesetaraan. Seperti pakaian khalifah yang tidak jauh berbeda dengan rakyat biasa, mengutamakan fungsionalitas untuk kenyamanan dengan pakaian dirancang untuk cuaca panas dan mudah digunakan, kesopanan dengan menekankan penutup aurat dan menghindari pakaian ketat atau mencolok. Pakaian pada masa Khulafaur Rasyidin ini umumnya terbuat dari bahan katun atau wol.
Jenis pakaian umum untuk laki-laki: izar (sarung), Ar-Rida’ (selendang/mantel) yang dipakai menutupi bagian atas tubuh dan merupakan pasangan dari izar, qamish (gamis/baju koko) adalah pakaian yang longgar dan jenis pakaian yang populer saat itu, jubah, imamah (sorban), sirwal yaitu celana panjang yang diperkenalkan dari Persia.
Pakaian Muslim Pada Masa Dinasti Ummayah (661-750 M)
Pada tahun 661 M, Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh anggota Khawarij (aliran islam awal yang membangkang dari barisan Khalifh Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin). Setelah Ali wafat, putra dari Ali bin Abi Thalib yaitu Hasan bin Ali diangkat sebagai khalifah sementara tetapi mengundurkan diri sekitar enam bulan dan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Muawiyah menerima baiat dari rakyat Suriah dan mendirikan Bani Umayyah.
Dinasti Umayyah merupakan kekhalifahan islam besar pertama yang didirikan oleh Muawiyah dengan ibukota di Damaskus, Suriah. Pada masa ini, terjadi perluasan wilayah yang sangat masif meliputi Timur Tengah, Afrika Utara dan Spanyol. Kemajuan pengetahuan dan budaya tumbuh pesat di masa Dinasti Ummayah termasuk di sini pakaian.
Pada masa Dinasti Umayyah, pakaian menjadi lebih mewah terutama untuk para kalangan elit. Pada zaman ini, penggunaan sutra dan brokat bermotif rumit sebagai simbol status, sedangkan masyarakat umum tetap menggunakan pakaian tradisional Arab seperti qamis, rida yang sering dihiasi dengan tiraz atau sulaman indah biasanya berbentuk kaligrafi. Tiraz berfungsi untuk menunjukkan simbol kekuasaan, loyalitas dan status sosial. Semakin bagus bahan tiraz, semakin tinggi status sosial (kalangan elit yang biasanya para khalifah dan pejabat tinggi). Masyarakat umum pada zaman Dinasti Umayyah menggunakan tiraz menggunakan bahan-bahan yang mendasar dan terjangkau, seperti katun atau wol biasa dengan tulisan atau dekorasi sederhana dan berfungsi sebagai pelengkap pakaian sehari-hari. Berbeda dengan masyarakat umum, kalangan elit memiliki tiraz dengan ciri khas bertulisan kaligrafi Arab yang rumit dan sering kali menyebutkan nama khalifah, tanggal pembuatan dan tempat produksi dengan fungsi sebagai simbol kekuasaan, status dengan pemakaian ketat yang diatur oleh negara. Untuk bahan dan kualitas, tiraz untuk kalangan elit terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi seperti sutra halus, linen premium atau brokat dengan bordiran yang rumit menggunakan benang emas atau perak.
Dapat disimpulkan, pada masa Dinasti Umayyah ini penggunaan pakaian yang lebih indah dan perhiasaan seperti pada surah Al-A’raf ayat 26 menjadi lebih umum di kalangan masyarakat yang mampu. Syariat menutup aurat masih tetap ada tetapi untuk gaya dan bahan pakaian yang digunakan sudah jauh berkembang dengan perubahan besarnya terdapat unsuru politik dan budaya.
Dinasti Abbasiyah (750-1258 M)
Kekhalifahan islam ketiga menggantikan Dinasti Umayyah adalah Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad dan masa dinasti Abbasiyah dikenal sebagai masa keemasan islam karena kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.
Baghdad sebagai ibu kota Abbasiyah, menjadi pusat perdagangan dan logistik. Banyak para pedagang dari banyak negara datang yang membuka akses ke berbagai sumber daya masuk termasuk di dalamnya berbagai jenis kain dan bahan pakaian baru, seperti sutra dari Tiongkok, linen, katun, dan wol yang mana hal ini mempengaruhi jenis pakaian dan memperkaya pilihan dan gaya pakaian pada saat itu.
Walau merupakan jalur perdagangan internasional yang dilewati banyak negara, proses asimiliasi budaya sangat kuat terjadi antara Dinasti Abbasiyah dengan Persia. Hal itu menyebabkan pakaian pada masa Dinasti Abbasiyah memiliki ciri khas perpaduan gaya Persia dan Arab dengan warna hitam sebagai warna resmi untuk istana dan birokrasi. Ciri khasnya adalah kain mewah, sulaman rumit dengan lengan lebar.
Warna dan bahan untuk pakaian pria pejabat istana dan militer yaitu hitam dominan yang terbuat dari wol halus, sutra, atau brokat. Beberapa pakaian pria saat itu adalah durra'a (tunik longgar), jubba/qaba (tunik luar dari linen, wol, atau sutra), qamish. Untuk penutup kepala, di zaman Dinasti Abbasiyah pria menggunakan turban/sorban yang menunjukkan simbol status dan keilmuan.
Sedangkan untuk wanita, pakaian yang digunakan pada masa Dinasti Abbasiyah terkenal dengan pakaian berlapis dan kerudung panjang dengan warna yang lebih beragam dengan sulaman indah untuk acara khusus, menggunakan bahan sutra, linen halus dan brokat. Cakupan pakaian wanita pada masa Dinasti Abbasiyah, yaitu lapisan pakaian longgar seperti gamis (kemeja panjang) dan durra’a (jubah luar) digunakan dengan kemeja halus tanpa lengan dan sirwal (celana panjang) di dalamnya. Untuk penutup kepala menggunakan khimar yang menutupi pelipis dan bisa menutupi wajah.
Perkembangan pakaian muslim pada masa Khulafaur Rasyidin hingga Dinasti Abbasiyah menggambarkan perjalanan islam menjadi sebuah peradaban besar. Pada masa Khulafaut Rasyidin, busana muslim masih sangat dekat dengan tradisi Arab dan Islam awal yang sederhana dalam bentuk, fungsional, dan mengandung nilai-nilai etika kesopanan, belum menjadi simbol kemewahan, melainkan cerminan kedekatan spiritual dan kesetaraan.
Kemudian,
memasuki periode Umayyah, Islam meluas dan menunjukkan perubahan yang lebih
nyata. Interaksi dengan budaya lain seperti Persia memperkaya bentuk, bahan,
dan struktur busana. Di periode Umayyah, mengubah tatanan dari kekhalifahan
menjadi monarki secara tidak langsung membuat perubahan dari sistem berpakaian.
Yang awalnya menunjukkan kesetaraan, di masa Dinasti Umayyah mulai ada
perbedaan cara berpakaian dari status sosial yang sangat jelas antara penguasa,
aparat, negara, ulama, dan masyarakat umum meskipun tetap memperhatikan nilai
kesopanan sebagai landasan utama.
Tidak jauh dari
masa Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah memiliki perkembangan pakaian muslim ke
tingkat yang lebih matang dan beragam dikarenakan Baghdad, ibu kota Dinasti
Abbasiyah menjadi ruang pertemuan berbagai macam tradisi budaya, ilmu
pengetahuan, dan seni yang menjadikan pakaian muslim di periode ini sebagai
bagian dari ekspresi intelektual, estetika, dan identitas sosial.
Secara keseluruhan,
pakaian muslim di ketiga periode ini menunjukkan bahwa pakaian muslim tidak
menjadikannya sebuah model pakaian yang kaku tetapi islam menyediakan nilai
yang memungkinkan adaptasi budaya tanpa kehilangan identitas spiritualnya.
Bagian berikutnya kita akan bahas pakaian muslim di era Al-Andalus 😍
Support kami terus ya supaya kami bisa membuat konten-konten yang bermanfaat. Support kami dengan traktir kita cendol ya biar otaknya freshhhh😋: teer.id/bomijoha
Ada saran konten lain? Bisa hubungi kita di:
instagram: @t.leesuceratops
tiktok: @tleesuceratops
twitter (x): @bomijoha

_and_the_first_four_Caliphs._From_the_Subhat_al-Akhbar._Original_in_the_Austrian_National_Library_(%C3%96sterreichische_Nationalbibliothek)_in_Vienna.jpg)





.webp)
Komentar
Posting Komentar